Kamis, 24 Januari 2019

Rumah Cahaya*



Aku masih saja menyimpan mimpi itu
Saat hujan pecah di suatu pagi
membuncahkan sejuta kilometer rindu
pada rumah penuh damai
:hatimu
Kekasihku, daun-daun sehijau hatimu
gugur di sekujur belantara waktu
dan pada sungai-sungai tanpa tirai, engkau
menawar luka pada asa yang masai
dan menjadikannya laut bagi puisi
Pagi gigil, antarkan kau ke kapal waktu
yang tengah berlabuh memeluk sisa usia
menuju perkampungan tanpa ruang
: Rumah cahaya
Maka, biarkan kami menangkap pedar nyala itu
Mengabadikan sisa usia dengan terus merawat mimpimu
Menghimpun aksara demi aksara, membangun cinta demi cinta
Dan merangkainya menjadi rantai pahala
:untukmu

*teruntuk ibu, guru juga sahabatku Rien Kisworini yang telah menyelesaikan tugas kehidupannya dengan paripurna.
Dan disini, aku masih saja menyimpan mimpi kita, untuk kembali saling berdampingan nama dalam buku yang sama, dan berharap suatu saat nanti bisa disatukan dalam rumah cahayaNya

Senin, 21 Januari 2019

HP BERBUAH JERUK




Senja  memerah dan semakin pekat. Pertanda malam hendak datang.   Sisa cahaya matahari  menerobos celah dedaunan lontar. Mbah Saekun pulang dengan gontai memanggul beberapa bethek-nya.
Kali ini sengaja ia tak membawa sepeda jengkinya, karena ia tak perlu membawa banyak bentek  yang berisi legen direngkek sepedahnya . Di musim peghujan seperti saat ini,  tak banyak air legen yang bisa didapatkan. Jika musim kemarau air legen melimpah.  Namun  dihari-hari penghujan pohon siwalan penghasil legen itu rupanya ingin beristirahat pula sehingga berproduksi hanya sedikit.
Mbah Saekun melewati pematang tegalan, kemudian berbelok ke jalan setapak yang bersambung dengan jalanan beraspal. Jalanan desa sore itu lengang, hanya beberapa sepeda motor para karyawan pabrik rokok yang pulang kerja. Mbah Saekun melamun, menyusun rencana dalam kepala, akan diolah apa legen yang sedikit itu. Mau tetap dibiarkan jadi legen, air pohon lontar itu tak bisa bertahan lama, dan jika dibiarkan akan berfermentasi jadi tuak.  Dibuat gula merah, tenaga dan biaya yang dikeluarkan tidak sumbut dengan hasilnya. Dibuat tuak, ah mbah Saekun tidak pernah berfikir untuk itu. Keyakinan agamanya mengajarkan bahwa rizki tak boleh didapat dari hal yang dilarang Gusti Pengeran. ‘Sak ithik lalah asal barokah’  begitu ajaran yang mbah Saekun pegang.
Dalam simpulan lamunannya,  Mbah Saekun  akhirnya memutuskan untuk merebus saja legen itu untuk dijadikan kilang. Dengan dikilang, legen itu akan bertahan beberapa hari, dikumpulkan hingga banyak kemudian  diolah kembali menjadi gula merah atau juruh.
Belum buyar juga lamunannya, mbah Saekun  dikejutan suara yang membuat langkahnya terhenti. Suara musik yang  ia tahu tak mungkin dari sound system tetangganya. Jalan itu masih sepi hanya ada dia dan bethek yang menggantung di bahunya. Ia berfikir tak ada orang didekatnya yang sedang membuyikan radio. Ia pun mencari sumber suara. Sebuah HP berwarna hitam mengkilap  menyembul dibalik serakan daun jati kering sisa kemarau kemarin.
Mbah Saekun memunggut HP itu, namun ia bingung apa yang harus diperbuat. Ia belum pernah sekalipun memegang benda itu. Namun ia tahu bahwa benda itu sangat berharga . Benda yang baginya hanya dipunyai oleh orang yang berpunya dan orang yang terpelajar yang katanya banyak urusannya.
Musik di HP itu terus berbunyi. Mbah Saekun semakin mempercepat langkahnya untuk pulang. Paling tidak ada Saipul tetangganya,  yang mbah Saekun tahu akan bisa membantunya.
Selepas sholat magrib, Mbah Saekun pun bertandang ke rumah Saipul yang lulusan STM itu. Ia pun bercerita apa yang terjadi.
Pek wae mbah! HP apik kui, merk terkenal.” kata saipul meyakinkan
“ Tak buat apa tho Pul wong mbahe yo nggak bisa pakai” mbah Saekun menimpali dengan senyum khasnya.
Didol payu larang kui mbah” goda  saipul lagi
“ Tidak ikut punya Pul, nggak ilok!!” Sergah mbah Saekun
“ Ya sudah mbah, kalau begitu kembalikan saja, eman mbah sebenarnya”
Mbah Saekun hanya diam menanggapi
“Tunggu saja mbah! Kalau memang orang yang punya itu merasa butuh dan penting, pasti mencari dan   nanti orang yang punya akan  menghubungi njenengan.
Belum selesai Saipul menjelaskan, HP di tangan Mbah Saekun  kembali berdering. Mbah Saekun  kembali bingung, disodorkan HP itu ke arah Saipul . Dengan sigap Saipul mendekatkan HP ketelinganya. Melalui saluran loudspeaker  mbah Saekun mendengar dengan jelas pembicaraan antara Saipul dan orang di seberang sana.
          Dari pembicaraan mereka, Mbah Saekun tahu bahwa yang menelfon adalah pemilik HP yang ia temukan. Dan orang tersebut berniat mengambil kembali kerumahnya, karena ia tahu Saipul mnyebutkan alamat rumahnya.
          Selepas isya sebuah Avansa berhenti di halaman rumah Mbah Saekun. Rupanya sang pemilik HP itu hendak mengambil HP yang ditemukannya tadi sore.
Pemilik HP memperkenalkan diri sebagai Pak Taufik, menejer di sebuah pabrik rokok. Ia bercerita bahwa tadi siang ia memang bersepeda motor melewati daerah tempat Mbah Saekun biasa mengambil legen tersebut. HP yang ia taruh di saku celana tanpa ia sadari terjatuh.
Setelah bercerita panjang lebar, Pak Taufik mengucapkan terimakasih. Pak Taufik menyerahkan sebuah amplop pada Mbah Saekun. Namun Mbah Saekun menolak dengan halus.
Ngapunten…..mboten usah. saya iklas kok. Kan HP itu kan juga milik pak Taufik sendiri”
“Ini sebagai ucapan terimakasih saya Mbah. Soalnya HP ini penting. Tidak karena harganya tapi isinya. Banyak nomer dan catatan penting”
Mbah Saekun masih menggeleng. Menolak.
Pak Taufik akhirnya menyerah, ia pun berpamitan pada mbah Saekun dan berjanji tidak akan melupakan kebaikan Mbah Saekun.  
“ Mbahe kenapa tho kok nggak mau menerima uang dari orang tadi? kan lumayan mbah!”Protes Nico cucunya yang  sudah SMP.
“ Nggak cung, wong pancen kui HPne wonge dewe. Mbahe kebetulan saja menemukan”
“ Tapi kan ……….sebagai upah menemukan mbah”
“Menolong itu tidak perlu upah le, mau niat menolong ya harus ikhlas, nggak boleh pamrih”
Embuh mbah….ngerti ngono HPne lak tak pek” Nico sang cucu pergi dengan tersungut-sungut
          Seminggu berlalu, Mbah Saekun melakukan rutinitas seperti biasanya. Bekerja di sawah dan mengambil legen.
Sore itu kedatangan Mbah Saekun di sambut pertengkaran dua cucunya yang masih usia TK dan SD. Dafa dan Faris kakak beradik yang tinggal serumah dengan Mbah Saekun.  Dafa menangis karena dikeplak Faris kakaknya.
          Usut punya usut, rupanya dua cucunya rebutan jeruk. Jeruk yang didapatkan Mbah Saekun tadi siang dari berkat hajatan tetangga.
          Mbah Saekun melerai dan menasehati keduanya untuk saling menyayangi dan pentingnya berbagi. Namun jeruk sudah terlanjur habis dan Dafa masih terus menangis. Maka, Mbah Saekun memilih menghibur kedua cucunya.
          “Besok kalau mbah kung punya uang tak  belikan di pasar”
          “Beneran ya kung, belikan dua kilo!?” Tanya Dafa diiantara isak tangisnya.
          “InsyaAllah” jawab Mbah Saekun
          “Sekarang sudah azan, sana ambil sarung ikut sholat! Minta sama Allah supaya mbah kung diberi rizki  biar bisa belikan Dafa jeruk dua kilo? Senyum mbh Saekun.
          Setelah magrib, seperti biasanya mbah Saekun meneruskan aktivitasnya dengan mengaji di rumah. Ia hendak memberi contoh cucu-cucunya untuk membiasakan mengaji sehabis magrib. Sebuah kebiasaan yang sudah mulai langka, yang sudah tergerus  dengan hiburan televisi.
          Mbah Saekun mengakhiri tilawahnya bersamaan dengan suara pintu rumah yang diketuk. Mbah Saekun beranjak dari kursinya. Ia membuka dan mempersilahkan tamunya masuk.
          “Oh pak taufik dan Istri rupanya….monggo…monggo pinarak!”
          “Maaf mbah baru sempat kesini, ini sekalian lewat jadi kami mampir” Senyum Pak Taufik sambil memperkenalkan Istrinya.
          “Dan maaf kami juga tidak bisa lama mbah, mau ada acara.”Lanjut pak Taufik.
          “dan ini oleh-oleh dari kami mohon diterima, ini bukan apa-apa, sebagai tanda persaudaraan saja Mbah” kata istri pak taufik menyodorkan sebuah bungkusan di atas meja.
          “Wah kok malah ngrepoti……terimakasih, insyaAllah ini saya terima”
Pak taufik dan istrinya pun berpamitan. Dua cucunya,    yang sejak tadi imping-imping di balik tirai pembatas ruang tamu pun menyerbu Mbah Saekun.
          “Mbah ayo buka!”
          “Sabar tho le, orangnya saja baru pulang kok”
          “ayo tho mbah” Faris merajuk
          Mbah Saekun pun menuruti permintaan cucu-cucunya. Ada 2 bungkusan didalam bukusan utama. Satu sudah terbuka dan isinya ternyata sebuah kemeja untuk mbah Saekun.
          “yah…..untuk mbah kung”kata dafa kecewa.
           Dan ketika dibuka bungkusan kedua, mereka berseru ”Lha….ini baru untuk kita” mereka tertawa bersama dan mengambil beberapa jeruk secukup tangan mereka.  
“Mbah kung nggak usah belikan, rizkinya datang sendiri kan” kata mbh  Saekun
          “Eh iya Allah itu maha baik ya, kita minta jeruk dua kilo, langsung Allah kasih dua kilo”kata Dafa senang.
“Iya ini gara-gara HP. HP yang berbuah jeruk haha…” tawa Faris disambut tawa Mbah Saekun dan ibu mereka
          “Makanya kalian harus percaya bahwa setiap kebaikan akan dibayar lunas oleh Allah. Kalau nggak sekarang ya nanti, kalau nggak nanti ya dibalasnya di akhirat sana. Kalian yakin kan le?”
Kedua cucu mbah Saekun pun mengagguk mantap.

Minggu, 20 Januari 2019

INI PILIHAN HIDUP!!*

buku antalogi pertama yang saya tulis bersama teman-teman "Laskar Geulis"









 Belajar merupakan hal yang seharusnya tak pernah berhenti untuk dilakukan, karena dengan belajar kita senantiasa berubah, berusaha mengulik hal yang dulu tak pernah dimengerti menjadi suatu hal yang sangat dipahami. Dengan belajar, manusia maknai hidup dari kesalahan yang pernah dilakukan untuk kemudian dicerna dan didur ulang. Dengan demikian kita terus berusaha untuk tidak siakan diri diombangkan waktu, menjadi stagnan secara mental. Dengan demikian kita terus belajar membentuk diri ini menjadi dewasa. Membentuk diri ini menjadi manusia.
             Bagi saya,menjadi ustadzah atau guru adalah salah satu diantara waktu pembelajaran yang    membuat saya takjub. Takjub atas banyaknya hal yang saya dapat, banyaknya perbaikan, dan otomatis, tentu banyaknya perubahan yang jujur saja membuat diri saya merasa bangga. Bangga atas diri sendiri dan bukan ditujukan untuk rendahkan orang lain, tak apa kan?. Saya bangga dengan hidup yang aku pilih saat ini. Menjadi seorang guru! Ya menjadi seorang guru. Profesi yang  tak pernah saya pikirkan sebelumnya. 
Mengingatnya saya jadi ingin tertawa. Ya, saya pun tertawa. Tepatnya mentertawakan diri saya, karena dulu saya tidak begitu tertarik dengan profesi ini. Profesi yang tak cukup bergensi bagi saya juga teman-teman. Satu profesi yang tak pernah masuk dalam kotak cita-cita anak jaman sekarang . Sampai saya pernah mengatakan pada diri saya”aku tidak mau jadi guru”. Setelah lulus SMA, saya baru merasakan susahnya mencari jurusan yang sesuai dengan kemampuan diri dan keuangan keluarga saya. Setelah gagal masuk akademi kesehatan karena alasan fisik yang tak mendukung, juga gagal masuk perguruan negeri dengan jurusan yang cukup bergensi tapi gagal karena keuangan keluarga yang tidak mendukung. Maka jadilah saya masuk jurusan “guru” yang secara kemampuan diri dan finansial masih dapat dijangkau.
  Saya kecewa waktu itu. Hingga  salah satu kakak saya yang memiliki nasib serupa, mengibur dalam kekecewaan saya”sudahlah..jangan kau iri dengan mereka-mereka yang berpunya, tapi yakin bahwa menjadi guru adalah jalan yang terbaik yang Allah pilihkan untukmu, berjuanglah demi bapak, seperti bapak memperjuangkan hidup kita...bukankah bahagia orang tua itu jalan terang untuk kesuksesan kita, ‘Nyesss..’kalimat itu membuatku luluh.
  Terkadang, seseorang  sering berfikir dua kali sebelum memutuskan untuk menjadi guru dan mengajar anak-anak apalagi anak-anak balita. Apalagi jika ada pilihan karir yang bagus. Menjadi guru dan mengajar buakanlah pilihan karir yang prestise, jarang yang mau memutuskan untuk jadi guru dan mengajar anak- anak, dengan segala kerepotannya.
            Dan kini saya berdiri disini, menjadi seorang guru. Guru bagi anakku sendiri juga guru bagi         murid-murid saya di sekolah. Profesi yang lambat laun begitu saya cintai. Saya belajar untuk menjadi guru yang baik.Bahkan, belajar menjadi guru bisa demikian menakjubkan.
            Banyak kalimat yang diucapkan oleh bapak saya terpatri di kepala, namun yang dulu tak pernah saya percaya adalah kalimat yang beliau ucapkan “mengajar itu satu kenikmatan, panggilan jiwa yang tak akan bisa kamu lawan”.Ketika itu saya tak merasakan dasyatnya makna dibalik kalimat itu. Tapi Sejak Juni 2005 lalu, hari ketika saya benar-benar berprofesi menjadi guru kalimat itu terngiang-ngiang di hati setiap kali melihat keceriaan anak-anak, melihat takjubnya mereka akan ilmu yang saya bagikan, tergiang-ngiang pangilan penuh cinta mereka. Kalimat itu baru benar-benar aku ketahui makna dan kebenarannya setelah saya menjadi seorang guru. Dengan menjadi guru, saya benar-benar bisa merasakan apa yang bapak atau para guru rasakan pada murid-muridnya, tentang rasa kasih sayang, makna cinta, perhatian, dan pengorbanan.
          Menjadi guru memang bukan sesuatu yang gampang, meskipun demikian,saya memberanikan mengambil keputusan ini. Beruntungnya lagi, Tuhan menempatkan saya disebuah sekolah bernama INSAN KAMIL ini.Semuanya berjalan cepat, namun durasi itu lambat laun makin membawa saya pada adegan slow motion di kehidupan saya. Kehidupan saya terasa melambat. Dalam pandangan mata saya, saya melihat diri saya yang  masih grogi berdiri didepan kelas menghadapi murid-murid saya, belajar mendekati mereka, memahami mereka, hingga panggilan ustadzah, yang setiap hari memenuhi gendang telinga saya, tangis mereka, tawa mereka, manja mereka, semua terangkum dan terjadi seperti slow motion tadi. Sangat lambat. saya menikmati setiap detik kebersamaan bersama mereka, saya mempelajari setiap gerak-gerik mereka, saya mempelajari kebiasaan mereka,memahami mereka hingga membuat saya merasa sayalah yang paling tahu tentang mereka.
             Terkadang, seseorang  sering berfikir dua kali sebelum memutuskan untuk menjadi guru dan mengajar anak-anak apalagi anak-anak balita. Apalagi jika ada pilihan karir yang bagus. Menjadi guru dan mengajar bukanlah pilihan karir yang prestise, jarang yang mau memutuskan untuk jadi guru dan mengajar anak- anak, dengan segala kerepotannya.
            Ketika saya benar-benar berdiri di depan kelas sebagai guru. saya mulai berpikir untuk memutuskan sesuatu. Ya, saya harus siap konsekuensinya. saya harus siap belajar, siap memantapkan hati, memberikan hati ini untuk mereka dan memulai semuanya dari awal.
Jadi guru itu harus siap dididik untuk menerima ilmu yang akan diberikan pada anak-anak, siap jadi sosok yang menyampaikan kebaikan, siap dikendalikan oleh akhlak untuk menjadi tauladan anak-anak”. Pesan seorang guru tawadhu’ kepada saya, yang sampai saat ini masih terus terngiang ditelinga saya.
            Dengan menjadi guru saya banyak belajar, belajar tentang banyak hal, belajar yang bukan hanya teori tapi ini belajar dari sesuatu nyata terpampang didepan saya. Pembelajaran yang mungkin tak pernah ada dan tak saya dapatkan di bangku kuliah manapun. Pembelajaran tentang makna keikhlasan, pengorbanan dan dedikasi.Inilah ‘universitas kehidupan’ saya. Diluar itu saya belajar banyak hal dari anak-anak. Bagi saya, anak-anak adalah guru terbaik saya. Dari mereka saya belajar mengeja makna kasih sayang, makna ketulusan , belajar membaca ayat-ayat kauniahnya Allah yang dibentangkan lewat mereka. Ketakjuban saya atas mereka, membuat saya banyak bersyukur dan bertadabur. Dari mereka saya dapatkan banyak sekali ilmu yang mungkin tak akan saya dapatkan kalau saya tak menjadi guru. Saya belajar menjadi guru mereka, orang tua, sahabat  mereka bahkan menjadi murid mereka.
Sejak itu, murni karir saya sebagai guru benar-benar saya nikmati, dan mungkin saya baru akan berhenti jika jasad ini sudah tak bisa berbuat  apa-apa lagi . saya akan tetap jadi guru, entah itu guru untuk murid-murid saya ataupun jadi guru untuk anak saya sendiri-ini yang terpenting-. “Saya tak kan berhenti mengajar” patri saya dalam hati. Karena saat ini, mengajar bukanlah urusan “ini pilihan karir” tapi benar adanya bahwa “ini pilihan hidup saya !”. Maka ketika saya harus berhenti mengajar dalam waktu 1,5 tahun karena suatu hal .pangillan jiwa itu meletup-letup hingga memaksa saya untuk membuat kelas kecil sendiri dirumah. Mengumpulkan anak-anak desa yang mau saya “ajar”. Itulah panggilan jiwa yang dikatakan bapak dulu, dan kini saya merasakannya.
            Kini menjadi guru,menjadi sebuah hal baru dalam hidup saya. Saya yang dulunya amat meremehkan ilmu pengasuhan anak, sekarang saya harus banyak belajar tentang itu, jika saya dulu dengan mudah melupakan sunah-sunah rasul dan akhlak-akhlak mahmudah, kini saya harus banyak berhati hati karena banyak ‘malaikat-malaikat’kecil yang siap mengawasi setiap gerak-gerik saya. Jika dulu susah sekali menghafal satu ayat ataupun asmaul husna, dengan mereka saya bisa melakukan semuanya. Dan masih banyak lagi.
              Yah!Siapa bilang jadi guru itu gampang? orang seringkali merendahkan profesi mulia ini. Menjadi guru sangat amat tidak menyenangkan bagi kebanyakan orang sekarang. Karena memang pada dasarnya menjadi guru itu bukan pekerjaan mudah dan sepele seperti yang dibayangkan. Dengan gaji yang diperoleh tak seberapa, tanggungan kerja yang luar biasa, menyiapkan perangkat pembelajaran,dan sebagainya. Butuh seribu kali lipat kesabaran, butuh seratus kali lipat stamina, dan butuh sejuta kali lipat keihklasan. Maka ketika seorang teman saya yang bekerja sebagai enterprenuer sukses bertanya ‘sekarang kerja dimana?’, dengan bangga saya akan menjawab “jadi ibu dan guru TK”. Bukankah memang sebagai guru menjadi salah satu  pekerjaan mulia, setelah kita melakukan kerja istimewa nan mulia sebagai ibu rumah tangga?.
           Wajar saja jika seorang guru  yang mendidik muridnya dengan ihklas sama mulianya dengan para ulama. Bahkan disebutkan bahwa guru itu salah satu warosatul ambiya’, pewaris para nabi. Karena merekalah  yang menyampaikan risalah kebenaran pada generasi-generasi mendatang. saya memandang anak-anak bukan hanya sebagai objek mengajar, tetapi juga investasi. Sebagai guru , saya ingin berinvestasi banyak hal pada anak dan murid-murid saya. saya ingin menitipkan ilmu, keyakinan, serta amal saya kepada mereka. saya ingin menorehkan lukisan tentang masa depan mereka, masa depan saya, masa depan bangsa ini tentunya. Masa depan yang tidak hanya berlaku di bumi melainkan di akhirat. saya berusaha memahat keindahannya selayaknya saya memahat diri saya sendiri. Berusaha memberi pelajaran terbaik bagi mereka di kehidupan yang akan berguna untuk akhiratnya. Sebisa mungkin memperlakukan mereka jauh lebih baik dari memperlakukan diri saya sendiri. Karena mereka investasi saya. Kepada mereka ridho Allah saya titipkan
          Ya, saya berharap Allah berkenan atas jalan yang saya pilih ini, menuntun saya untuk bisa menjadi orang tua dan guru yang bisa teriring doa.
Bismillahi tawakaltu ‘alallah...Ya Allah ijinkan saya beriktiar semampu hamba untuk menjadikan mereka anak yang sholih , cerdas..., hingga layak Engkau kumpulkan saya dengan mereka kelak bersama para Rasul dan Nabi-Mu, para syuhada, orang-orang soleh, serta orang-orang yang Engkau ridhai”, biarlah doa singkat  yang mungkin membumbung tinggi itu selalu mengikuti langkah saya. Saya berharap kelak  mereka akan menjadi manusia selayaknya rasul yang menyampaikan risalah, menyampaikan kalimat Tuhan, yang senantiasa berjalan lurus menuju Rabb-nya. Menjadi pemberat timbangan amal saya di yaumil akhir nanti.Amin.

(masuk dalam Buku antologi TEKO SANG GURU )


Sabtu, 19 Januari 2019

Harga Sebuah Proses




Tak ada yang lebih mengasyikan bagi para kaum ibu selain membicarakan anak-anak mereka. Entah tentang keberhasilan maupun masalah diseputar anak-anak mereka. Tentang sekolah yang bagus, tentang fasion anak, tentang pengalaman keseharian, tentang cara menghadapi prilaku anak sampai les ini itu, yang diharapkan bisa membuat anak berkembang sesuai harapan dan sebagainya. Yang kalau ditulis disini, saya yakin nggak akan ada habisnya.

Seperti siang itu, seorang teman yang notabene juga seorang bunda bercerita setengah bertanya lewat chat wa "Anak saya cenderung tidak sabaran mbk, maunya instan saja. Misal minta apa-apa kayak harus langsung ada depan mata mintanya cepet, Kenapa ya mbk?dan gimana biar nggak kayak gitu? "

Saya hanya menanggapinya dengan membalas dengan kata "sama" dan saya tambahi emoticon senyuman. Saya mengakui, saya pun terkadang merasakan hal yang sama seperti yang bunda tadi utarakan. Saya masih mengingat betul bagaimana Harits minta segera sembuh dari demamnya padahal baru 2 menitan obat penurun panas saya minumkan, bertapa tidak sabarnya dia saat menagih janji pada saya untuk membuatkan makanan atau mainan yang ia inginkan dan masih banyak contoh ketidak sabaran lainnya. 

Saya pun berusaha merefleksi diri, bercermin dengan apa yang sudah saya lakukan selama ini, karena saya yakin masalah 'tidak sabaran' itu tidak datang dengan sendirinya. Dan saya akhirnya dengan sadar mengakui betapa diri ini juga tidak kalah kurang sabar dengan anak saya. Alih-alih takut terlambat, kata"cepat-cepat nanti telat" itu senantiasa mengudara hampir tiap pagi, "Cepat bangun.... Cepat mandi... Cepat pakai baju,....Cepat sarapan..... Cepat.... Cepat... " dan rentetan intruksi yang bernada tidak sabaran. Begitu juga saat menemaninya belajar, ada rasa tak sabar ketika mendapati target belajar yang kita tentukan ternyata jauh dari kenyataan. Atau ketika Badan sudah lelah beraktivitas seharian, sedangkan si anak tidak mau diajak berkompromi dengan keadaan, maka yang terjadi lagi-lagi ketidak sabaran. Adakah bunda mengalami hal yang sama? 

Saya yakin , selain pengalaman seperti diatas, ada banyak kisah para bunda dalam menghadapi ujian bernama 'kesabaran' ini. Itulah mengapa, dalam bahasan akhlak islam, term sabar memiliki grade tertinggi dalam menentukan kualitas keimanan seseorang selain nilai syukur. 

Nah, mengapa anak-anak wabil khusus kita sering tidak sabaran?

Tak hanya soal ketimpangan antara harapan dan kenyataan saja rupanya. Tapi juga soal iklim zaman yang serba instan yang mau tidak mau mempengaruhi pola pikir kita. Kehidupan yang serba modern menuntut kita serba cepat. Kemajuan teknologi rupanya mendorong hidup serba praktis dan instan. Jika orang dulu untuk makan nasi saja harus cari kayu bakar, berpanas ria didepan tunku, belum asap dapur yang bikin mata perih, maka zaman sekarang orang mau makan tinggal pencet magic com, masih terlalu repot, pencet handphone hubungi go food makanan yg diinginkan sudah tersaji di meja. Begitu juga, mau nyuci tinggal pencet, mau belanja tinggal pencet, mau dingin tinggal pencet dan sebagainya.

Dengan segala kemudahan tersebut membuat otak kita terframe untuk berfikir instan. Dengan frame pola pikir tersebut membuat nilai sebuah proses seakan tak berarti lagi. Semua seakan bisa diselesaikan dengan mudah, diselesaikan dengan cepat dan praktis tanpa lama dan ribet. Dan uang menjadi alat yang berperan penting dalam zaman yang serba instan ini. Maka tak heran jika kata "halah tinggal beli, tinggal pesan! " menjadi kata sakti untuk mendapatkan sesuatu.

Banyak contoh yang menunjukan betapa lingkungan kita sudah sangat terinfeksi pola pikir serba instan ini.seorang anak mendapat tugas membuat prakarya dari sekolah. Alih-alih menyemangati anak untuk membuat atau paling tidak membantu. Tapi orang tua ini justru memesankan pada agen prakarya atau bahkan mengkoordir wali murid lain untuk memesan. Atau seorang guru karena takut dianggap tidak bisa mengajar dan dengan harapan dapat pujian, diberikanlah soal yang akan diujikan pada siswanya. Dan masih banyak sekali contoh lain yang nyatanya mereka tidak pernah memiikirkan akibat jangka panjang yang tak hanya berlaku didunia tapi juga akibat yang terkait surga neraka. 

Lawan dari instan adalah proses. Proses..Proses..Proses.. Satu kata yang langka untuk saat ini. Banyak orang yang mendengarnya seakan antipati dengan sebuah proses. Namun coba sesekali kita menengok sebuah argumen yang bisa saya sampaikan di dunia yang dipenuhi jalan2 yang instan ini. 

Proses adalah suatu sistem yang harus terlewati sebelum kita mendapatkan hasil. Tapi kebanyakan orang menganggap hal ini tidak penting, dan bisa diakali. Misalkan banyak kasus tentang Ijazah palsu, membayar untuk suatu pekerjaan, membayar untuk sebuah gelar. Bahkan sampai kegiatan mencontek pun bisa dikategorikan dalam unsur “penghinaan terhadap proses”. Mungkin kebanyakan orang yang membaca tulisan ini akan merasa geram dan berfikir “ah munafik banget sih lo!”, tapi tunggu, mari kita berdiskusi! 

Sebagian hidup ini adalah suatu proses, dan proses itu tidak boleh kita langkahi dengan kita membuat jalan terpintas untuk melewatinya. Lebih ditekankan lagi pada contoh-contoh diatas, kan mereka membeli ijazah untuk mengelabui proses, membeli gelar, seakan-akan mereka hebat, tapi sesungguhnya tidak ada proses yang mereka jalani. Pernahkah terbesit di pikiran ini, bahwa memang tidak pernah ada jalan pintas untuk mencapai sebuah pencapaian. Mungkin kita, bisa mengerti hal ini dengan menjadi seorang petani. Seorang petani, menabur, merawat apa yang ditaburnya. Sehingga menjadi sesuatu. Tidak ada petani yang berfikir, sekarang mereka tabur, besok hasilnya melimpah. Mungkin dengan analogi tersebut kita bisa berfikir, betapa besarnya harga sebuah proses. 

Orang yang besar adalah orang yang bisa menghargai proses tersebut, bukannya melangkahi proses. Mungkin sebagian malah berfikir, kita bisa berbuat curang, dan hanya orang-orang munafik dan sok suci yang menuntut kebenaran, mungkin dalam hal mencontek, menipu, dan kegiatan lainnya.

Dunia ini seakan terbalik, sesuatu yang tidak benar seolah dianggap benar, dan sesuatu yang memang benar, dianggap bullshit, munafik, dan lain-lain.

Sekali lagi, No Offense bagi yang pernah melakukan kecurangan atau kesalahan. Saya pun pernah melakukan kesalahan, tapi berjanjilah, kita meraih semua pencapaian yang benar-benar ingin kita capai dengan menghargai proses yang bakal kita lewati.

Maka saatnya kita bersama-sama berproses dengan penuh kesabaran. Kesabaran yang akan berbuah kebaikan. Mari meyakini bahwa jalan instan itu memang melenakan, tapi tak akan mampu memberi makna apapun dihadapan manusia juga dihadapanyaNya.

Harga sebuah proses memang mahal, berat dan berliku bagi yang tidak mau, tapi bagi yang mau, siap-siap dapat keberkahan dari sebuah akhlak bernama kesabaran. Allah itu membersamai orang yang sabar bukan orang yang suka dengan ketergesaan atau jalan instan!!!


Jumat, 18 Januari 2019

SEKOLAH UNGGUL= THE BEST PROCESS (Insan Kamil Bageeeeet...)



Diantara gegap gempita menyambut tahun ajaran baru, wacana tentang sekolah unggulan atau sekolah favorit pun bergulir. Para orang tua dan  konsumen pendidikan rame-rame mencari sekolah yang dianggap unggul untuk memberi atau memilihkanyang terbaik untuk putra-putrinya. Tapi bagaimana sebenarnya kreteria sekolah unggul sebenarnya? Apakah sekolah yang menyeleksi dan memilih dengan ketat kualitas akademis calon siswanya dengan tes-tes kognitif?  Atau sekolah yang tiap tahun  langganan Nilai NEM tertinggi?,atau sekolah yang hanya anak pintar secara akedemis saja yang boleh masuk, yang nakal, yang IQ nya rendah tidak bisa masuk?atau seperti apa?

Maka, dari pada kita ramai memperdebatkan itu,  mari kita baca apa kata pakar, terkait indikator sekolah unggul. Kami berusaha mengulik dari pendapat pakar pendidikan yaitu bapak Munif Chatib dan Tom J. Parkins. Berikut pendapat mereka :

"Indikator sebuah sekolah dapat dilihat dari tiga komponen, yaitu INPUT, PROSES, dan OUTPUT".
 
Pada komponen INPUT, adalah dititikberatkan pada bagaimana sekolah tersebut menerima siswa baru. Ada dua konsep yang berbeda dalam cara sekolah menerima siswa barunya, yaitu:

Sekolah dengan konsep ”BEST INPUT”
Sekolah yang menganut konsep ”BEST INPUT”, yaitu bahwa siswa-siswa unggul yang diharapkan masuk dan mendaftar di sekolah tersebut dengan cara harus melewati beberapa tes formal dan kognitif. Sekolah tersebut meyakini bahwa keunggulan sekolahnya berdasarkan keunggulan akademik siswa-siswa baru yang lulus tes masuk. Artinya sekolah unggul adalah sekolah yang inputnya unggul.
Ciri-ciri sekolah yang menganut konsep ”BEST INPUT” adalah sebagai berikut:
  1. Menerapkan tes masuk kepada siswa-siswa yang akan mendaftar ke sekolah tersebut. Tes masuk ini bahkan menilai kemampuan akademik siswa dan moral siswa. Diharapkan siswa yang diterima adalah siswa-siswa yang mempunyai nilai akademik positif (baca: pandai) dan moral positif (baca: baik, tidak nakal).
  2. Apabila jumlah siswa yang mendaftar melebihi jumlah kapasitas sekolah, maka siswa yang berhasil diterima adalah hasil sortir dari nilai tes masuk yang tertinggi sampai sebatas jumlah kapasitas yang tersedia. Sedangkan siswa-siswa yang nilainya tidak masuk atau lebih dari kapasitas sekolah tersebut maka dianggap tidak berhasil diterima di sekolah tersebut.
  3. Biasanya sekolah tersebut tidak lagi menganggap perlu tahap proses pembelajaran. Terutama para guru sudah merasa cukup mengajar biasa-biasa saja sebab kebanyakan siswanya pandai-pandai.
  4. Biasanya sekolah tersebut mempunyai guru-guru yang cara mengajarnya konservatif dan tidak kreatif.
  5. Keberhasilan sekolah tersebut pada output lebih disebabkan keunggulan dan minat siswa dan keluarganya untuk dapat berhasil lulus. Sedangkan peranan guru dalam keberhasilan siswanya relatif kecil.
·        Kritik untuk sekolah ”BEST INPUT”:

Menurut Tom J. Parkins, hampir 99% sekolah di Indonesia dalam model penerimaan siswa barunya menganut ”BEST INPUT”. Hal ini berlaku juga pada sekolah yang dikatakan unggul atau favorit. Hanya beberapa sekolah unggul saja di Indonesia yang sudah meninggalkan konsep ini.

”BEST INPUT” mengkerdilkan fungsi sekolah sebenarnya. Menurut Tom, sekolah pada hakekatnya adalah wadah untuk untuk mengubah siswa-siswa yang belajar di dalamnya untuk dapat berhasil. Jadi sekolah dan guru adalah sebagai ”agen perubah” siswa-siswanya. Sekolah dan guru harus mampu mengubah siswa-siswa yang mempunyai kemampuan akademik dan moral negatif menjadi siswa-siswa yang mempunyai kemampuan akademik dan moral positif. Jadi dapat dikatakan naif sekali apabila sekolah malah tidak menginginkan siswa-siswa yang mempunyai kelemahan yang daftar dan masuk ke sekolah tersebut. Sekolah seperti itu berarti sekolah yang tidak melakukan fungsinya sebagai ”agen perubah”.

Kualitas Tes Masuk pada sekolah BEST INPUT juga perlu dievaluasi. Artinya sangat tidak manusiawi. Menilai kemampuan siswa dengan besarnya angka-angka kognitif pada kualitas pengetahuan yang rendah sangat tidak adil. Penulis pernah menginterview seorang teman yang mengajar di sebuah SD terkenal tentang tes masuk penerimaan siswa baru. Guru tersebut mengatakan bahwa di sekolahnya siswa yang dapat diterima di sekolahnya adalah yang mempunyai nilai 75 ke atas. Sedangkan nilai 74 ke bawah tidak diterima. Ketika penulis menanyakan kepada kepala sekolah tersebut tentang sebenarnya apa bedanya nilai 75 dan 74, hanya terpaut 1 digit saja, namun punya dampak yang berbeda. Seseorang tidak dapat masuk sekolah yang diinginkannya hanya karena kurang 1 digit. Tentu saja guru tersebut tidak mampu menjawabnya.

Mengutip kalimat pak Munif Chatib : Kualitas guru pada sekolah yang menganut konsep ini, biasanya juga rendah atau biasa-biasa saja. Tidak ada yang istimewa pada mutu guru. Bahkan menurut penelitian beliau pada sekolah yang favorit di Surabaya, beberapa guru bahkan dianggap ”gagap teknologi” (baca: gaptek) oleh siswa-siswanya dalam hal teknologi internet. Guru merasa tidak harus berusaha sekuat mungkin untuk mengubah siswanya menjadi pandai dan mengerti banyak ilmu pengetahuan, sebab kebanyakan siswanya sudah pandai. Apalagi biasanya siswa sudah kursus banyak bidang studi di luar sekolah.

Sekolah dengan konsep ”BEST PROCESS”

Sekolah yang menganut konsep bahwa sekolah unggul adalah sekolah yang fokus pada kualitas proses pembelajaran , tidak menitikberatkan pada kualitas akademik siswa-siswa baru yang masuk ke sekolah tersebut. Sekolah model ini dengan suka cita menerima semua siswa dalam kondisi apapun.
Ciri-ciri sekolah yang menganut ”BEST PROCESS” ini adalah sebagai berikut:
  • Sekolah ini tidak menerapkan tes masuk pada siswa barunya. Biasanya sekolah ini menggunakan sebuah perangkat riset/observasi  untuk mengetahuai kondisi kemampuan siswa yang masuk ke sekolah tersebut, sehingga  mampu mengetahui banyak dimensi kondisi kemampuan dan kekurangan siswanya.
  • Sekolah dan guru pada sekolah ini akan mendapatkan sebuah kenyataan tentang kemampuan akademik dan moral siswa-siswa barunya sangat beragam. Sehingga hal ini merupakan tantangan bagi guru untuk mengubah menjadi ke arah positif. Akhirnya guru-guru di sekolah ini dituntut menjadi ”agen perubah” . Mengubah kondisi akademik dan moral siswa yang negatif menjadi positif.
  • Menurut Tom J. Parkins, inilah sekolah yang sebenarnya, sekolah yang menerima segala kondisi siswanya. Kemudian kondisi itu dipelajari dan diteliti, lalu dengan data tersebut, para guru mencoba mengembangkan kemampuan siswa-siswanya dengan cara yang berbeda-beda. Sekolah unggul adalah sekolah yang menitik beratkan pada kualitas proses pembelajaran, dan ini ada pada pundak guru, bukan pada kualitas input siswanya.
  • Guru-guru pada sekolah ini biasanya kreatif, sebab meyakini bahwa gaya mengajar guru tersebut harus disesuaikan dengan gaya belajar siswanya. Tuntutan mengajar dengan pola demikian hanya dapat dilakukan oleh guru-guru yang handal, punya dedikasi dan kompetensi mengajar yang baik. Dengan demikian sekolah yang menerapkan konsep ini, biasanya jadwal pelatihan guru sangat padat. Guru benar-benar diharapkan profesional dan menjadi agen perubah.
    Kesimpulan dari pendapat mereka tersebut adalah:
  • Masih sedikitnya (baca: 1%) sekolah di Indonesia yang dikategorikan sekolah unggul, baik pada komponen input, proses, dan output.
  • Paradigma sekolah unggul di Indonesia masih banyak yang harus dikoreksi dan ditata lagi, terutama pada input penerimaan siswa baru.
Bagaimana dengan Insan Kamil??
Memang  banyak dari kita yang awalnya menganggap sekolah unggul atau favorite adalah sekolah yang menerima siswanya dengan seleksi ketat, yang pandai dan yang baik itu berhak masuk. Bagi kami sekolah unggul atau SEKOLAHNYA MANUSIA yang menerima siswanya dalam kondisi apapun. Mungkin ada yang pintar, baik, bodoh, nakal ataupun siswa yang mempunyai hambatan. insan kamil berusaha menjadi Sekolah yang senantiasa menghargai  setiap kondisi. karena kita percaya semua anak adalah bintang, masterpiece,  karya agung Tuhan.
Karena sekarang  anda telah tahu, maka pilihan ditangan anda , mau pilih sekolah unggul betulan atau sekolah unggul-unggulan? Ya, Sampai kita percaya bahwa sekolah kita adalah yang 1% itu. Mari bersama gelorakan semangat ”GIVING THE  BEST PROCESS”.


*review dari buku “Sekolahnya manusia” karya Munif Chatib (Konsultan Pendidikan dan Manajemen)




Teras Puisi 2 (Tema Kemerdekaan)