Rumah penuh cinta di mana saya bisa berbagi bahagia dan bermanfaat bagi sesama maupun agamaNya. Rumah penuh kata, yang semoga akan teruntai menjadi rangkaian pahala untuk mengais Sa'adah dan RidhoNya
Kamis, 24 Januari 2019
Rumah Cahaya*
Aku masih saja menyimpan mimpi itu
Saat hujan pecah di suatu pagi
membuncahkan sejuta kilometer rindu
pada rumah penuh damai
:hatimu
Kekasihku, daun-daun sehijau hatimu
gugur di sekujur belantara waktu
dan pada sungai-sungai tanpa tirai, engkau
menawar luka pada asa yang masai
dan menjadikannya laut bagi puisi
Pagi gigil, antarkan kau ke kapal waktu
yang tengah berlabuh memeluk sisa usia
menuju perkampungan tanpa ruang
: Rumah cahaya
Maka, biarkan kami menangkap pedar nyala itu
Mengabadikan sisa usia dengan terus merawat mimpimu
Menghimpun aksara demi aksara, membangun cinta demi cinta
Dan merangkainya menjadi rantai pahala
:untukmu
*teruntuk ibu, guru juga sahabatku Rien Kisworini yang telah menyelesaikan tugas kehidupannya dengan paripurna.
Dan disini, aku masih saja menyimpan mimpi kita, untuk kembali saling berdampingan nama dalam buku yang sama, dan berharap suatu saat nanti bisa disatukan dalam rumah cahayaNya
Senin, 21 Januari 2019
HP BERBUAH JERUK
Senja memerah dan semakin pekat. Pertanda malam
hendak datang. Sisa cahaya
matahari menerobos celah dedaunan lontar.
Mbah Saekun pulang dengan gontai memanggul beberapa bethek-nya.
Kali
ini sengaja ia tak membawa sepeda jengkinya, karena ia tak perlu membawa banyak
bentek yang berisi legen direngkek
sepedahnya . Di musim peghujan seperti saat ini, tak banyak air legen yang bisa didapatkan. Jika
musim kemarau air legen melimpah. Namun dihari-hari penghujan pohon siwalan penghasil
legen itu rupanya ingin beristirahat pula sehingga berproduksi hanya sedikit.
Mbah
Saekun melewati pematang tegalan, kemudian berbelok ke jalan setapak yang
bersambung dengan jalanan beraspal. Jalanan desa sore itu lengang, hanya
beberapa sepeda motor para karyawan pabrik rokok yang pulang kerja. Mbah Saekun
melamun, menyusun rencana dalam kepala, akan diolah apa legen yang sedikit itu.
Mau tetap dibiarkan jadi legen, air pohon lontar itu tak bisa bertahan lama, dan
jika dibiarkan akan berfermentasi jadi tuak.
Dibuat gula merah, tenaga dan biaya yang dikeluarkan tidak sumbut dengan hasilnya. Dibuat tuak, ah
mbah Saekun tidak pernah berfikir untuk itu. Keyakinan agamanya mengajarkan
bahwa rizki tak boleh didapat dari hal yang dilarang Gusti Pengeran. ‘Sak ithik
lalah asal barokah’ begitu ajaran
yang mbah Saekun pegang.
Dalam
simpulan lamunannya, Mbah Saekun akhirnya memutuskan untuk merebus saja legen
itu untuk dijadikan kilang. Dengan dikilang, legen itu akan bertahan beberapa
hari, dikumpulkan hingga banyak kemudian
diolah kembali menjadi gula merah atau juruh.
Belum
buyar juga lamunannya, mbah Saekun
dikejutan suara yang membuat langkahnya terhenti. Suara musik yang ia tahu tak mungkin dari sound system
tetangganya. Jalan itu masih sepi hanya ada dia dan bethek yang menggantung di bahunya.
Ia berfikir tak ada orang didekatnya yang sedang membuyikan radio. Ia pun mencari
sumber suara. Sebuah HP berwarna hitam mengkilap menyembul dibalik serakan daun jati kering
sisa kemarau kemarin.
Mbah
Saekun memunggut HP itu, namun ia bingung apa yang harus diperbuat. Ia belum
pernah sekalipun memegang benda itu. Namun ia tahu bahwa benda itu sangat
berharga . Benda yang baginya hanya dipunyai oleh orang yang berpunya dan orang
yang terpelajar yang katanya banyak urusannya.
Musik
di HP itu terus berbunyi. Mbah Saekun semakin mempercepat langkahnya untuk
pulang. Paling tidak ada Saipul tetangganya, yang mbah Saekun tahu akan bisa membantunya.
Selepas sholat magrib, Mbah Saekun
pun bertandang ke rumah Saipul yang lulusan STM itu. Ia pun bercerita apa yang
terjadi.
“ Pek wae mbah! HP apik kui,
merk terkenal.” kata saipul meyakinkan
“ Tak buat apa tho Pul wong mbahe yo nggak bisa pakai”
mbah Saekun menimpali dengan senyum khasnya.
“ Didol payu larang kui mbah” goda
saipul lagi
“ Tidak ikut punya Pul, nggak ilok!!” Sergah mbah Saekun
“ Ya sudah mbah, kalau
begitu kembalikan saja, eman mbah
sebenarnya”
Mbah Saekun hanya diam
menanggapi
“Tunggu saja mbah! Kalau
memang orang yang punya itu merasa butuh dan penting, pasti mencari dan nanti
orang yang punya akan menghubungi njenengan.”
Belum
selesai Saipul menjelaskan, HP di tangan Mbah Saekun kembali berdering. Mbah Saekun kembali bingung, disodorkan HP itu ke arah Saipul
. Dengan sigap Saipul mendekatkan HP ketelinganya. Melalui saluran loudspeaker mbah Saekun mendengar dengan jelas pembicaraan
antara Saipul dan orang di seberang sana.
Dari
pembicaraan mereka, Mbah Saekun tahu bahwa yang menelfon adalah pemilik HP yang
ia temukan. Dan orang tersebut berniat mengambil kembali kerumahnya, karena ia
tahu Saipul mnyebutkan alamat rumahnya.
Selepas isya sebuah Avansa berhenti di halaman rumah Mbah Saekun.
Rupanya sang pemilik HP itu hendak mengambil HP yang ditemukannya tadi sore.
Pemilik
HP memperkenalkan diri sebagai Pak Taufik, menejer di sebuah pabrik rokok. Ia
bercerita bahwa tadi siang ia memang bersepeda motor melewati daerah tempat Mbah
Saekun biasa mengambil legen tersebut. HP yang ia taruh di saku celana tanpa ia
sadari terjatuh.
Setelah
bercerita panjang lebar, Pak Taufik mengucapkan terimakasih. Pak Taufik
menyerahkan sebuah amplop pada Mbah Saekun. Namun Mbah Saekun menolak dengan
halus.
“Ngapunten…..mboten usah. saya iklas kok.
Kan HP itu kan juga milik pak Taufik sendiri”
“Ini
sebagai ucapan terimakasih saya Mbah. Soalnya HP ini penting. Tidak karena
harganya tapi isinya. Banyak nomer dan catatan penting”
Mbah
Saekun masih menggeleng. Menolak.
Pak
Taufik akhirnya menyerah, ia pun berpamitan pada mbah Saekun dan berjanji tidak
akan melupakan kebaikan Mbah Saekun.
“ Mbahe kenapa tho kok nggak
mau menerima uang dari orang tadi? kan lumayan mbah!”Protes Nico cucunya
yang sudah SMP.
“ Nggak cung, wong pancen kui HPne wonge dewe. Mbahe
kebetulan saja menemukan”
“ Tapi kan ……….sebagai upah
menemukan mbah”
“Menolong itu tidak perlu
upah le, mau niat menolong ya harus ikhlas, nggak boleh pamrih”
“Embuh mbah….ngerti ngono HPne lak tak pek” Nico sang cucu pergi
dengan tersungut-sungut
Seminggu berlalu, Mbah Saekun melakukan rutinitas seperti
biasanya. Bekerja di sawah dan mengambil legen.
Sore
itu kedatangan Mbah Saekun di sambut pertengkaran dua cucunya yang masih usia
TK dan SD. Dafa dan Faris kakak beradik yang tinggal serumah dengan Mbah Saekun. Dafa menangis karena dikeplak Faris kakaknya.
Usut punya usut, rupanya dua cucunya rebutan jeruk. Jeruk
yang didapatkan Mbah Saekun tadi siang dari berkat
hajatan tetangga.
Mbah Saekun melerai dan menasehati keduanya untuk saling
menyayangi dan pentingnya berbagi. Namun jeruk sudah terlanjur habis dan Dafa
masih terus menangis. Maka, Mbah Saekun memilih menghibur kedua cucunya.
“Besok kalau mbah kung punya uang tak belikan di pasar”
“Beneran ya kung, belikan dua kilo!?” Tanya Dafa diiantara
isak tangisnya.
“InsyaAllah” jawab Mbah Saekun
“Sekarang sudah azan, sana ambil sarung ikut sholat! Minta
sama Allah supaya mbah kung diberi rizki
biar bisa belikan Dafa jeruk dua kilo? Senyum mbh Saekun.
Setelah magrib, seperti biasanya mbah Saekun meneruskan aktivitasnya
dengan mengaji di rumah. Ia hendak memberi contoh cucu-cucunya untuk
membiasakan mengaji sehabis magrib. Sebuah kebiasaan yang sudah mulai langka,
yang sudah tergerus dengan hiburan
televisi.
Mbah Saekun mengakhiri tilawahnya bersamaan dengan suara pintu
rumah yang diketuk. Mbah Saekun beranjak dari kursinya. Ia membuka dan
mempersilahkan tamunya masuk.
“Oh pak taufik dan Istri rupanya….monggo…monggo pinarak!”
“Maaf mbah baru sempat kesini, ini sekalian lewat jadi kami
mampir” Senyum Pak Taufik sambil memperkenalkan Istrinya.
“Dan maaf kami juga tidak bisa lama mbah, mau ada
acara.”Lanjut pak Taufik.
“dan ini oleh-oleh dari kami mohon diterima, ini bukan
apa-apa, sebagai tanda persaudaraan saja Mbah” kata istri pak taufik menyodorkan
sebuah bungkusan di atas meja.
“Wah kok malah ngrepoti……terimakasih, insyaAllah ini saya
terima”
Pak taufik dan istrinya pun
berpamitan. Dua cucunya, yang sejak tadi imping-imping di balik tirai pembatas ruang tamu pun menyerbu Mbah Saekun.
“Mbah ayo buka!”
“Sabar tho le, orangnya saja baru pulang kok”
“ayo tho mbah” Faris merajuk
Mbah Saekun pun menuruti permintaan cucu-cucunya. Ada 2
bungkusan didalam bukusan utama. Satu sudah terbuka dan isinya ternyata sebuah
kemeja untuk mbah Saekun.
“yah…..untuk mbah kung”kata dafa kecewa.
Dan ketika dibuka
bungkusan kedua, mereka berseru ”Lha….ini baru untuk kita” mereka tertawa bersama
dan mengambil beberapa jeruk secukup tangan mereka.
“Mbah kung nggak usah
belikan, rizkinya datang sendiri kan” kata mbh
Saekun
“Eh iya Allah itu maha baik ya, kita minta jeruk dua kilo,
langsung Allah kasih dua kilo”kata Dafa senang.
“Iya ini gara-gara HP. HP
yang berbuah jeruk haha…” tawa Faris disambut tawa Mbah Saekun dan ibu mereka
“Makanya kalian harus percaya bahwa setiap kebaikan akan
dibayar lunas oleh Allah. Kalau nggak sekarang ya nanti, kalau nggak nanti ya
dibalasnya di akhirat sana. Kalian yakin kan le?”
Kedua cucu mbah Saekun pun mengagguk
mantap.
Minggu, 20 Januari 2019
INI PILIHAN HIDUP!!*
![]() | |||||||||
| buku antalogi pertama yang saya tulis bersama teman-teman "Laskar Geulis" |
Belajar merupakan hal yang
seharusnya tak pernah berhenti untuk dilakukan, karena dengan belajar kita
senantiasa berubah, berusaha mengulik hal yang dulu tak pernah dimengerti
menjadi suatu hal yang sangat dipahami. Dengan belajar, manusia maknai hidup
dari kesalahan yang pernah dilakukan untuk kemudian dicerna dan didur ulang.
Dengan demikian kita terus berusaha untuk tidak siakan diri diombangkan waktu,
menjadi stagnan secara mental. Dengan demikian kita terus belajar membentuk
diri ini menjadi dewasa. Membentuk diri ini menjadi manusia.
Bagi saya,menjadi ustadzah atau guru
adalah salah satu diantara waktu pembelajaran yang membuat saya takjub. Takjub atas banyaknya
hal yang saya dapat, banyaknya perbaikan, dan otomatis, tentu banyaknya
perubahan yang jujur saja membuat diri saya merasa bangga. Bangga atas diri
sendiri dan bukan ditujukan untuk rendahkan orang lain, tak apa kan?. Saya bangga dengan hidup yang
aku pilih saat ini. Menjadi seorang guru! Ya menjadi seorang guru. Profesi
yang tak pernah saya pikirkan
sebelumnya.
Mengingatnya saya jadi ingin
tertawa. Ya, saya pun tertawa. Tepatnya mentertawakan diri saya, karena dulu saya tidak
begitu tertarik dengan profesi ini. Profesi yang tak cukup bergensi bagi saya
juga teman-teman. Satu profesi yang tak pernah masuk dalam kotak cita-cita anak
jaman sekarang . Sampai saya pernah mengatakan pada diri saya”aku tidak mau
jadi guru”. Setelah lulus SMA, saya baru merasakan susahnya mencari jurusan
yang sesuai dengan kemampuan diri dan keuangan keluarga saya. Setelah gagal
masuk akademi kesehatan karena alasan fisik yang tak mendukung, juga gagal
masuk perguruan negeri dengan jurusan yang cukup bergensi tapi gagal karena
keuangan keluarga yang tidak mendukung. Maka jadilah saya masuk jurusan “guru”
yang secara kemampuan diri dan finansial masih dapat dijangkau.
Saya kecewa waktu itu.
Hingga salah satu kakak saya yang
memiliki nasib serupa, mengibur dalam kekecewaan saya”sudahlah..jangan kau iri
dengan mereka-mereka yang berpunya, tapi yakin bahwa menjadi guru adalah jalan yang
terbaik yang Allah pilihkan untukmu, berjuanglah demi bapak, seperti bapak
memperjuangkan hidup kita...bukankah bahagia orang tua itu jalan terang untuk
kesuksesan kita, ‘Nyesss..’kalimat
itu membuatku luluh.
Terkadang, seseorang sering berfikir dua kali sebelum memutuskan
untuk menjadi guru dan mengajar anak-anak apalagi anak-anak balita. Apalagi
jika ada pilihan karir yang bagus. Menjadi guru dan mengajar buakanlah pilihan
karir yang prestise, jarang yang mau memutuskan untuk jadi guru dan mengajar
anak- anak, dengan segala kerepotannya.
Dan kini saya berdiri disini,
menjadi seorang guru. Guru bagi anakku sendiri juga guru bagi murid-murid saya di sekolah. Profesi yang lambat
laun begitu saya cintai. Saya belajar untuk menjadi guru yang baik.Bahkan,
belajar menjadi guru bisa demikian menakjubkan.
Banyak kalimat yang diucapkan oleh bapak saya terpatri di kepala, namun yang dulu tak pernah saya percaya adalah kalimat yang beliau ucapkan “mengajar itu satu kenikmatan, panggilan jiwa yang tak akan bisa kamu lawan”.Ketika itu saya tak merasakan dasyatnya makna dibalik kalimat itu. Tapi Sejak Juni 2005 lalu, hari ketika saya benar-benar berprofesi menjadi guru kalimat itu terngiang-ngiang di hati setiap kali melihat keceriaan anak-anak, melihat takjubnya mereka akan ilmu yang saya bagikan, tergiang-ngiang pangilan penuh cinta mereka. Kalimat itu baru benar-benar aku ketahui makna dan kebenarannya setelah saya menjadi seorang guru. Dengan menjadi guru, saya benar-benar bisa merasakan apa yang bapak atau para guru rasakan pada murid-muridnya, tentang rasa kasih sayang, makna cinta, perhatian, dan pengorbanan.
Banyak kalimat yang diucapkan oleh bapak saya terpatri di kepala, namun yang dulu tak pernah saya percaya adalah kalimat yang beliau ucapkan “mengajar itu satu kenikmatan, panggilan jiwa yang tak akan bisa kamu lawan”.Ketika itu saya tak merasakan dasyatnya makna dibalik kalimat itu. Tapi Sejak Juni 2005 lalu, hari ketika saya benar-benar berprofesi menjadi guru kalimat itu terngiang-ngiang di hati setiap kali melihat keceriaan anak-anak, melihat takjubnya mereka akan ilmu yang saya bagikan, tergiang-ngiang pangilan penuh cinta mereka. Kalimat itu baru benar-benar aku ketahui makna dan kebenarannya setelah saya menjadi seorang guru. Dengan menjadi guru, saya benar-benar bisa merasakan apa yang bapak atau para guru rasakan pada murid-muridnya, tentang rasa kasih sayang, makna cinta, perhatian, dan pengorbanan.
Menjadi guru memang bukan sesuatu
yang gampang, meskipun demikian,saya memberanikan mengambil keputusan ini.
Beruntungnya lagi, Tuhan menempatkan saya disebuah sekolah bernama INSAN KAMIL
ini.Semuanya berjalan cepat, namun durasi itu lambat laun makin membawa saya
pada adegan slow motion di kehidupan saya. Kehidupan saya terasa melambat.
Dalam pandangan mata saya, saya melihat diri saya yang masih grogi berdiri didepan kelas menghadapi
murid-murid saya, belajar mendekati mereka, memahami mereka, hingga panggilan
ustadzah, yang setiap hari memenuhi gendang telinga saya, tangis mereka, tawa
mereka, manja mereka, semua terangkum dan terjadi seperti slow motion tadi.
Sangat lambat. saya menikmati setiap detik kebersamaan bersama mereka, saya
mempelajari setiap gerak-gerik mereka, saya mempelajari kebiasaan
mereka,memahami mereka hingga membuat saya merasa sayalah yang paling tahu
tentang mereka.
Terkadang, seseorang sering berfikir dua kali sebelum memutuskan untuk menjadi guru dan mengajar anak-anak apalagi anak-anak balita. Apalagi jika ada pilihan karir yang bagus. Menjadi guru dan mengajar bukanlah pilihan karir yang prestise, jarang yang mau memutuskan untuk jadi guru dan mengajar anak- anak, dengan segala kerepotannya.
Ketika saya benar-benar berdiri di depan kelas sebagai guru. saya mulai berpikir untuk memutuskan sesuatu. Ya, saya harus siap konsekuensinya. saya harus siap belajar, siap memantapkan hati, memberikan hati ini untuk mereka dan memulai semuanya dari awal.“Jadi guru itu harus siap dididik untuk menerima ilmu yang akan diberikan pada anak-anak, siap jadi sosok yang menyampaikan kebaikan, siap dikendalikan oleh akhlak untuk menjadi tauladan anak-anak”. Pesan seorang guru tawadhu’ kepada saya, yang sampai saat ini masih terus terngiang ditelinga saya.
Terkadang, seseorang sering berfikir dua kali sebelum memutuskan untuk menjadi guru dan mengajar anak-anak apalagi anak-anak balita. Apalagi jika ada pilihan karir yang bagus. Menjadi guru dan mengajar bukanlah pilihan karir yang prestise, jarang yang mau memutuskan untuk jadi guru dan mengajar anak- anak, dengan segala kerepotannya.
Ketika saya benar-benar berdiri di depan kelas sebagai guru. saya mulai berpikir untuk memutuskan sesuatu. Ya, saya harus siap konsekuensinya. saya harus siap belajar, siap memantapkan hati, memberikan hati ini untuk mereka dan memulai semuanya dari awal.“Jadi guru itu harus siap dididik untuk menerima ilmu yang akan diberikan pada anak-anak, siap jadi sosok yang menyampaikan kebaikan, siap dikendalikan oleh akhlak untuk menjadi tauladan anak-anak”. Pesan seorang guru tawadhu’ kepada saya, yang sampai saat ini masih terus terngiang ditelinga saya.
Dengan menjadi guru saya banyak
belajar, belajar tentang banyak hal, belajar yang bukan hanya teori tapi ini
belajar dari sesuatu nyata terpampang didepan saya. Pembelajaran yang mungkin
tak pernah ada dan tak saya dapatkan di bangku kuliah manapun. Pembelajaran
tentang makna keikhlasan, pengorbanan dan dedikasi.Inilah ‘universitas
kehidupan’ saya. Diluar itu saya belajar banyak hal dari anak-anak. Bagi saya,
anak-anak adalah guru terbaik saya. Dari mereka saya belajar mengeja makna
kasih sayang, makna ketulusan , belajar membaca ayat-ayat kauniahnya Allah yang
dibentangkan lewat mereka. Ketakjuban saya atas mereka, membuat saya banyak
bersyukur dan bertadabur. Dari mereka saya dapatkan banyak sekali ilmu yang
mungkin tak akan saya dapatkan kalau saya tak menjadi guru. Saya belajar
menjadi guru mereka, orang tua, sahabat
mereka bahkan menjadi murid mereka.
Sejak itu, murni
karir saya sebagai guru benar-benar saya nikmati, dan mungkin saya baru akan
berhenti jika jasad ini sudah tak bisa berbuat
apa-apa lagi . saya akan tetap jadi guru, entah itu guru untuk
murid-murid saya ataupun jadi guru untuk anak saya sendiri-ini yang
terpenting-. “Saya tak kan berhenti mengajar” patri saya dalam hati. Karena
saat ini, mengajar bukanlah urusan “ini pilihan karir” tapi benar adanya bahwa
“ini pilihan hidup saya !”.
Maka ketika saya harus berhenti mengajar dalam waktu 1,5 tahun karena suatu hal
.pangillan jiwa itu meletup-letup hingga memaksa saya untuk membuat kelas kecil
sendiri dirumah. Mengumpulkan anak-anak desa yang mau saya “ajar”. Itulah
panggilan jiwa yang dikatakan bapak dulu, dan kini saya merasakannya.
Kini menjadi guru,menjadi sebuah hal baru dalam hidup saya. Saya yang dulunya amat meremehkan ilmu pengasuhan anak, sekarang saya harus banyak belajar tentang itu, jika saya dulu dengan mudah melupakan sunah-sunah rasul dan akhlak-akhlak mahmudah, kini saya harus banyak berhati hati karena banyak ‘malaikat-malaikat’kecil yang siap mengawasi setiap gerak-gerik saya. Jika dulu susah sekali menghafal satu ayat ataupun asmaul husna, dengan mereka saya bisa melakukan semuanya. Dan masih banyak lagi.
Yah!Siapa bilang jadi guru itu gampang? orang
seringkali merendahkan profesi mulia ini. Menjadi guru sangat amat tidak
menyenangkan bagi kebanyakan orang sekarang. Karena memang pada dasarnya
menjadi guru itu bukan pekerjaan mudah dan sepele seperti yang dibayangkan.
Dengan gaji yang diperoleh tak seberapa, tanggungan kerja yang luar biasa,
menyiapkan perangkat pembelajaran,dan sebagainya. Butuh seribu kali lipat
kesabaran, butuh seratus kali lipat stamina, dan butuh sejuta kali lipat
keihklasan. Maka ketika seorang teman saya yang bekerja sebagai enterprenuer
sukses bertanya ‘sekarang kerja dimana?’, dengan bangga saya akan menjawab
“jadi ibu dan guru TK”. Bukankah memang sebagai guru menjadi salah satu pekerjaan mulia, setelah kita melakukan kerja
istimewa nan mulia sebagai ibu rumah tangga?.
Kini menjadi guru,menjadi sebuah hal baru dalam hidup saya. Saya yang dulunya amat meremehkan ilmu pengasuhan anak, sekarang saya harus banyak belajar tentang itu, jika saya dulu dengan mudah melupakan sunah-sunah rasul dan akhlak-akhlak mahmudah, kini saya harus banyak berhati hati karena banyak ‘malaikat-malaikat’kecil yang siap mengawasi setiap gerak-gerik saya. Jika dulu susah sekali menghafal satu ayat ataupun asmaul husna, dengan mereka saya bisa melakukan semuanya. Dan masih banyak lagi.
Wajar saja jika seorang
guru yang mendidik muridnya dengan
ihklas sama mulianya dengan para ulama. Bahkan disebutkan bahwa guru itu salah
satu warosatul ambiya’, pewaris para nabi. Karena merekalah yang menyampaikan risalah kebenaran pada
generasi-generasi mendatang. saya memandang anak-anak bukan hanya sebagai objek
mengajar, tetapi juga investasi. Sebagai guru , saya ingin berinvestasi banyak
hal pada anak dan murid-murid saya. saya ingin menitipkan ilmu, keyakinan,
serta amal saya kepada mereka. saya ingin menorehkan lukisan tentang masa depan
mereka, masa depan saya, masa depan bangsa ini tentunya. Masa depan yang tidak
hanya berlaku di bumi melainkan di akhirat. saya berusaha memahat keindahannya
selayaknya saya memahat diri saya sendiri. Berusaha memberi pelajaran terbaik
bagi mereka di kehidupan yang akan berguna untuk akhiratnya. Sebisa mungkin
memperlakukan mereka jauh lebih baik dari memperlakukan diri saya sendiri.
Karena mereka investasi saya. Kepada mereka ridho Allah saya titipkan
Ya, saya berharap Allah berkenan atas jalan yang saya pilih ini, menuntun saya untuk bisa menjadi orang tua dan guru yang bisa teriring doa. “Bismillahi tawakaltu ‘alallah...Ya Allah ijinkan saya beriktiar semampu hamba untuk menjadikan mereka anak yang sholih , cerdas..., hingga layak Engkau kumpulkan saya dengan mereka kelak bersama para Rasul dan Nabi-Mu, para syuhada, orang-orang soleh, serta orang-orang yang Engkau ridhai”, biarlah doa singkat yang mungkin membumbung tinggi itu selalu mengikuti langkah saya. Saya berharap kelak mereka akan menjadi manusia selayaknya rasul yang menyampaikan risalah, menyampaikan kalimat Tuhan, yang senantiasa berjalan lurus menuju Rabb-nya. Menjadi pemberat timbangan amal saya di yaumil akhir nanti.Amin.
(masuk dalam Buku antologi TEKO SANG GURU )
Ya, saya berharap Allah berkenan atas jalan yang saya pilih ini, menuntun saya untuk bisa menjadi orang tua dan guru yang bisa teriring doa. “Bismillahi tawakaltu ‘alallah...Ya Allah ijinkan saya beriktiar semampu hamba untuk menjadikan mereka anak yang sholih , cerdas..., hingga layak Engkau kumpulkan saya dengan mereka kelak bersama para Rasul dan Nabi-Mu, para syuhada, orang-orang soleh, serta orang-orang yang Engkau ridhai”, biarlah doa singkat yang mungkin membumbung tinggi itu selalu mengikuti langkah saya. Saya berharap kelak mereka akan menjadi manusia selayaknya rasul yang menyampaikan risalah, menyampaikan kalimat Tuhan, yang senantiasa berjalan lurus menuju Rabb-nya. Menjadi pemberat timbangan amal saya di yaumil akhir nanti.Amin.
(masuk dalam Buku antologi TEKO SANG GURU )
Sabtu, 19 Januari 2019
Harga Sebuah Proses
Tak
ada yang lebih mengasyikan bagi para kaum ibu selain membicarakan anak-anak
mereka. Entah tentang keberhasilan maupun masalah diseputar anak-anak mereka.
Tentang sekolah yang bagus, tentang fasion anak, tentang pengalaman keseharian,
tentang cara menghadapi prilaku anak sampai les ini itu, yang diharapkan bisa
membuat anak berkembang sesuai harapan dan sebagainya. Yang kalau ditulis
disini, saya yakin nggak akan ada habisnya.
Seperti
siang itu, seorang teman yang notabene juga seorang bunda bercerita setengah
bertanya lewat chat wa "Anak saya cenderung tidak sabaran mbk, maunya
instan saja. Misal minta apa-apa kayak harus langsung ada depan mata mintanya
cepet, Kenapa ya mbk?dan gimana biar nggak kayak gitu? "
Saya
hanya menanggapinya dengan membalas dengan kata "sama" dan saya
tambahi emoticon senyuman. Saya mengakui, saya pun terkadang merasakan hal yang
sama seperti yang bunda tadi utarakan. Saya masih mengingat betul bagaimana
Harits minta segera sembuh dari demamnya padahal baru 2 menitan obat penurun
panas saya minumkan, bertapa tidak sabarnya dia saat menagih janji pada saya
untuk membuatkan makanan atau mainan yang ia inginkan dan masih banyak contoh ketidak sabaran
lainnya.
Saya
pun berusaha merefleksi diri, bercermin dengan apa yang sudah saya lakukan
selama ini, karena saya yakin masalah 'tidak sabaran' itu tidak datang dengan
sendirinya. Dan saya akhirnya dengan sadar mengakui betapa diri ini juga tidak kalah
kurang sabar dengan anak saya. Alih-alih takut terlambat, kata"cepat-cepat
nanti telat" itu senantiasa mengudara hampir tiap pagi, "Cepat
bangun.... Cepat mandi... Cepat pakai baju,....Cepat sarapan..... Cepat....
Cepat... " dan rentetan intruksi yang bernada tidak sabaran. Begitu juga
saat menemaninya belajar, ada rasa tak sabar ketika mendapati target belajar
yang kita tentukan ternyata jauh dari kenyataan. Atau ketika Badan sudah lelah
beraktivitas seharian, sedangkan si anak tidak mau diajak berkompromi dengan
keadaan, maka yang terjadi lagi-lagi ketidak sabaran. Adakah bunda mengalami
hal yang sama?
Saya
yakin , selain pengalaman seperti diatas, ada banyak kisah para bunda dalam
menghadapi ujian bernama 'kesabaran' ini. Itulah mengapa, dalam bahasan akhlak
islam, term sabar memiliki grade tertinggi dalam menentukan kualitas keimanan
seseorang selain nilai syukur.
Nah,
mengapa anak-anak wabil khusus kita sering tidak sabaran?
Tak
hanya soal ketimpangan antara harapan dan kenyataan saja rupanya. Tapi juga
soal iklim zaman yang serba instan yang mau tidak mau mempengaruhi pola pikir
kita. Kehidupan yang serba modern menuntut kita serba cepat. Kemajuan teknologi
rupanya mendorong hidup serba praktis dan instan. Jika orang dulu untuk makan
nasi saja harus cari kayu bakar, berpanas ria didepan tunku, belum asap dapur
yang bikin mata perih, maka zaman sekarang orang mau makan tinggal pencet magic
com, masih terlalu repot, pencet handphone hubungi go food makanan yg
diinginkan sudah tersaji di meja. Begitu juga, mau nyuci tinggal pencet, mau
belanja tinggal pencet, mau dingin tinggal pencet dan sebagainya.
Dengan
segala kemudahan tersebut membuat otak kita terframe untuk berfikir instan.
Dengan frame pola pikir tersebut membuat nilai sebuah proses seakan tak berarti
lagi. Semua seakan bisa diselesaikan dengan mudah, diselesaikan dengan cepat
dan praktis tanpa lama dan ribet. Dan uang menjadi alat yang berperan penting
dalam zaman yang serba instan ini. Maka tak heran jika kata "halah tinggal
beli, tinggal pesan! " menjadi kata sakti untuk mendapatkan sesuatu.
Banyak
contoh yang menunjukan betapa lingkungan kita sudah sangat terinfeksi pola
pikir serba instan ini.seorang anak mendapat tugas membuat prakarya dari
sekolah. Alih-alih menyemangati anak untuk membuat atau paling tidak membantu.
Tapi orang tua ini justru memesankan pada agen prakarya atau bahkan mengkoordir
wali murid lain untuk memesan. Atau seorang guru karena takut dianggap tidak
bisa mengajar dan dengan harapan dapat pujian, diberikanlah soal yang akan
diujikan pada siswanya. Dan masih banyak sekali contoh lain yang nyatanya
mereka tidak pernah memiikirkan akibat jangka panjang yang tak hanya berlaku
didunia tapi juga akibat yang terkait surga neraka.
Lawan
dari instan adalah proses. Proses..Proses..Proses.. Satu kata yang langka untuk
saat ini. Banyak orang yang mendengarnya seakan antipati dengan sebuah proses.
Namun coba sesekali kita menengok sebuah argumen yang bisa saya sampaikan di
dunia yang dipenuhi jalan2 yang instan ini.
Proses
adalah suatu sistem yang harus terlewati sebelum kita mendapatkan hasil. Tapi
kebanyakan orang menganggap hal ini tidak penting, dan bisa diakali. Misalkan
banyak kasus tentang Ijazah palsu, membayar untuk suatu pekerjaan, membayar
untuk sebuah gelar. Bahkan sampai kegiatan mencontek pun bisa dikategorikan
dalam unsur “penghinaan terhadap proses”. Mungkin kebanyakan orang yang membaca
tulisan ini akan merasa geram dan berfikir “ah munafik banget sih lo!”, tapi
tunggu, mari kita berdiskusi!
Sebagian
hidup ini adalah suatu proses, dan proses itu tidak boleh kita langkahi dengan
kita membuat jalan terpintas untuk melewatinya. Lebih ditekankan lagi pada
contoh-contoh diatas, kan mereka membeli ijazah untuk mengelabui proses,
membeli gelar, seakan-akan mereka hebat, tapi sesungguhnya tidak ada proses
yang mereka jalani. Pernahkah terbesit di pikiran ini, bahwa memang tidak
pernah ada jalan pintas untuk mencapai sebuah pencapaian. Mungkin kita, bisa
mengerti hal ini dengan menjadi seorang petani. Seorang petani, menabur,
merawat apa yang ditaburnya. Sehingga menjadi sesuatu. Tidak ada petani yang
berfikir, sekarang mereka tabur, besok hasilnya melimpah. Mungkin dengan
analogi tersebut kita bisa berfikir, betapa besarnya harga sebuah proses.
Orang
yang besar adalah orang yang bisa menghargai proses tersebut, bukannya
melangkahi proses. Mungkin sebagian malah berfikir, kita bisa berbuat curang,
dan hanya orang-orang munafik dan sok suci yang menuntut kebenaran, mungkin
dalam hal mencontek, menipu, dan kegiatan lainnya.
Dunia
ini seakan terbalik, sesuatu yang tidak benar seolah dianggap benar, dan
sesuatu yang memang benar, dianggap bullshit, munafik, dan lain-lain.
Sekali
lagi, No Offense bagi yang pernah melakukan kecurangan atau kesalahan. Saya pun
pernah melakukan kesalahan, tapi berjanjilah, kita meraih semua pencapaian yang
benar-benar ingin kita capai dengan menghargai proses yang bakal kita lewati.
Maka
saatnya kita bersama-sama berproses dengan penuh kesabaran. Kesabaran yang akan
berbuah kebaikan. Mari meyakini bahwa jalan instan itu memang melenakan, tapi
tak akan mampu memberi makna apapun dihadapan manusia juga dihadapanyaNya.
Harga
sebuah proses memang mahal, berat dan berliku bagi yang tidak mau, tapi bagi
yang mau, siap-siap dapat keberkahan dari sebuah akhlak bernama kesabaran.
Allah itu membersamai orang yang sabar bukan orang yang suka dengan ketergesaan
atau jalan instan!!!
Jumat, 18 Januari 2019
SEKOLAH UNGGUL= THE BEST PROCESS (Insan Kamil Bageeeeet...)
Diantara gegap gempita menyambut tahun ajaran baru,
wacana tentang sekolah unggulan atau sekolah favorit pun bergulir. Para orang
tua dan konsumen pendidikan rame-rame
mencari sekolah yang dianggap unggul untuk memberi atau memilihkanyang terbaik
untuk putra-putrinya. Tapi bagaimana sebenarnya kreteria sekolah unggul
sebenarnya? Apakah sekolah yang menyeleksi dan memilih dengan ketat kualitas
akademis calon siswanya dengan tes-tes kognitif? Atau sekolah yang tiap tahun langganan Nilai NEM tertinggi?,atau sekolah
yang hanya anak pintar secara akedemis saja yang boleh masuk, yang nakal, yang
IQ nya rendah tidak bisa masuk?atau seperti apa?
Maka, dari pada kita ramai memperdebatkan itu, mari kita baca apa kata pakar, terkait
indikator sekolah unggul. Kami berusaha mengulik dari pendapat pakar pendidikan
yaitu bapak Munif Chatib dan Tom J.
Parkins. Berikut pendapat mereka :
"Indikator
sebuah sekolah dapat dilihat dari tiga komponen, yaitu INPUT, PROSES, dan
OUTPUT".
Pada komponen INPUT, adalah dititikberatkan pada bagaimana sekolah tersebut menerima siswa baru. Ada dua konsep yang berbeda dalam cara sekolah menerima siswa barunya, yaitu:
Sekolah dengan konsep ”BEST INPUT”
Sekolah yang menganut konsep ”BEST INPUT”, yaitu bahwa siswa-siswa unggul yang diharapkan masuk dan mendaftar di sekolah tersebut dengan cara harus melewati beberapa tes formal dan kognitif. Sekolah tersebut meyakini bahwa keunggulan sekolahnya berdasarkan keunggulan akademik siswa-siswa baru yang lulus tes masuk. Artinya sekolah unggul adalah sekolah yang inputnya unggul.
Ciri-ciri sekolah yang menganut konsep ”BEST INPUT” adalah sebagai berikut:
- Menerapkan tes masuk kepada siswa-siswa yang akan mendaftar ke sekolah tersebut. Tes masuk ini bahkan menilai kemampuan akademik siswa dan moral siswa. Diharapkan siswa yang diterima adalah siswa-siswa yang mempunyai nilai akademik positif (baca: pandai) dan moral positif (baca: baik, tidak nakal).
- Apabila jumlah siswa yang mendaftar melebihi jumlah kapasitas sekolah, maka siswa yang berhasil diterima adalah hasil sortir dari nilai tes masuk yang tertinggi sampai sebatas jumlah kapasitas yang tersedia. Sedangkan siswa-siswa yang nilainya tidak masuk atau lebih dari kapasitas sekolah tersebut maka dianggap tidak berhasil diterima di sekolah tersebut.
- Biasanya sekolah tersebut tidak lagi menganggap perlu tahap proses pembelajaran. Terutama para guru sudah merasa cukup mengajar biasa-biasa saja sebab kebanyakan siswanya pandai-pandai.
- Biasanya sekolah tersebut mempunyai guru-guru yang cara mengajarnya konservatif dan tidak kreatif.
- Keberhasilan sekolah tersebut pada output lebih disebabkan keunggulan dan minat siswa dan keluarganya untuk dapat berhasil lulus. Sedangkan peranan guru dalam keberhasilan siswanya relatif kecil.
·
Kritik untuk
sekolah ”BEST INPUT”:
Menurut Tom J. Parkins, hampir 99% sekolah di Indonesia dalam model penerimaan siswa barunya menganut ”BEST INPUT”. Hal ini berlaku juga pada sekolah yang dikatakan unggul atau favorit. Hanya beberapa sekolah unggul saja di Indonesia yang sudah meninggalkan konsep ini.
”BEST INPUT” mengkerdilkan fungsi sekolah sebenarnya. Menurut Tom, sekolah pada hakekatnya adalah wadah untuk untuk mengubah siswa-siswa yang belajar di dalamnya untuk dapat berhasil. Jadi sekolah dan guru adalah sebagai ”agen perubah” siswa-siswanya. Sekolah dan guru harus mampu mengubah siswa-siswa yang mempunyai kemampuan akademik dan moral negatif menjadi siswa-siswa yang mempunyai kemampuan akademik dan moral positif. Jadi dapat dikatakan naif sekali apabila sekolah malah tidak menginginkan siswa-siswa yang mempunyai kelemahan yang daftar dan masuk ke sekolah tersebut. Sekolah seperti itu berarti sekolah yang tidak melakukan fungsinya sebagai ”agen perubah”.
Kualitas Tes Masuk pada sekolah BEST INPUT juga perlu dievaluasi. Artinya sangat tidak manusiawi. Menilai kemampuan siswa dengan besarnya angka-angka kognitif pada kualitas pengetahuan yang rendah sangat tidak adil. Penulis pernah menginterview seorang teman yang mengajar di sebuah SD terkenal tentang tes masuk penerimaan siswa baru. Guru tersebut mengatakan bahwa di sekolahnya siswa yang dapat diterima di sekolahnya adalah yang mempunyai nilai 75 ke atas. Sedangkan nilai 74 ke bawah tidak diterima. Ketika penulis menanyakan kepada kepala sekolah tersebut tentang sebenarnya apa bedanya nilai 75 dan 74, hanya terpaut 1 digit saja, namun punya dampak yang berbeda. Seseorang tidak dapat masuk sekolah yang diinginkannya hanya karena kurang 1 digit. Tentu saja guru tersebut tidak mampu menjawabnya.
Mengutip kalimat pak Munif Chatib : Kualitas
guru pada sekolah yang menganut konsep ini, biasanya juga rendah atau
biasa-biasa saja. Tidak ada yang istimewa pada mutu guru. Bahkan menurut
penelitian beliau pada sekolah yang favorit di Surabaya, beberapa guru bahkan
dianggap ”gagap teknologi” (baca: gaptek) oleh siswa-siswanya dalam hal
teknologi internet. Guru merasa tidak harus berusaha sekuat mungkin untuk
mengubah siswanya menjadi pandai dan mengerti banyak ilmu pengetahuan, sebab
kebanyakan siswanya sudah pandai. Apalagi biasanya siswa sudah kursus banyak
bidang studi di luar sekolah.
Sekolah dengan konsep ”BEST PROCESS”
Sekolah yang menganut konsep bahwa sekolah unggul adalah sekolah yang fokus pada kualitas proses pembelajaran , tidak menitikberatkan pada kualitas akademik siswa-siswa baru yang masuk ke sekolah tersebut. Sekolah model ini dengan suka cita menerima semua siswa dalam kondisi apapun.
Ciri-ciri sekolah yang menganut ”BEST PROCESS” ini adalah sebagai berikut:
Sekolah dengan konsep ”BEST PROCESS”
Sekolah yang menganut konsep bahwa sekolah unggul adalah sekolah yang fokus pada kualitas proses pembelajaran , tidak menitikberatkan pada kualitas akademik siswa-siswa baru yang masuk ke sekolah tersebut. Sekolah model ini dengan suka cita menerima semua siswa dalam kondisi apapun.
Ciri-ciri sekolah yang menganut ”BEST PROCESS” ini adalah sebagai berikut:
- Sekolah ini tidak menerapkan tes masuk pada siswa barunya. Biasanya sekolah ini menggunakan sebuah perangkat riset/observasi untuk mengetahuai kondisi kemampuan siswa yang masuk ke sekolah tersebut, sehingga mampu mengetahui banyak dimensi kondisi kemampuan dan kekurangan siswanya.
- Sekolah dan guru pada sekolah ini akan mendapatkan sebuah kenyataan tentang kemampuan akademik dan moral siswa-siswa barunya sangat beragam. Sehingga hal ini merupakan tantangan bagi guru untuk mengubah menjadi ke arah positif. Akhirnya guru-guru di sekolah ini dituntut menjadi ”agen perubah” . Mengubah kondisi akademik dan moral siswa yang negatif menjadi positif.
- Menurut Tom J. Parkins, inilah sekolah yang sebenarnya, sekolah yang menerima segala kondisi siswanya. Kemudian kondisi itu dipelajari dan diteliti, lalu dengan data tersebut, para guru mencoba mengembangkan kemampuan siswa-siswanya dengan cara yang berbeda-beda. Sekolah unggul adalah sekolah yang menitik beratkan pada kualitas proses pembelajaran, dan ini ada pada pundak guru, bukan pada kualitas input siswanya.
- Guru-guru pada sekolah ini
biasanya kreatif, sebab meyakini bahwa gaya mengajar guru tersebut harus
disesuaikan dengan gaya belajar siswanya. Tuntutan mengajar dengan pola
demikian hanya dapat dilakukan oleh guru-guru yang handal, punya dedikasi
dan kompetensi mengajar yang baik. Dengan demikian sekolah yang menerapkan
konsep ini, biasanya jadwal pelatihan guru sangat padat. Guru benar-benar
diharapkan profesional dan menjadi agen perubah.
Kesimpulan dari pendapat mereka tersebut adalah:
- Masih sedikitnya (baca: 1%) sekolah di Indonesia yang dikategorikan sekolah unggul, baik pada komponen input, proses, dan output.
- Paradigma sekolah unggul di Indonesia masih banyak yang harus dikoreksi dan ditata lagi, terutama pada input penerimaan siswa baru.
Bagaimana
dengan Insan Kamil??
Memang banyak dari
kita yang awalnya menganggap sekolah unggul atau favorite adalah sekolah yang
menerima siswanya dengan seleksi ketat, yang pandai dan yang baik itu berhak
masuk. Bagi kami sekolah unggul atau SEKOLAHNYA MANUSIA yang menerima siswanya
dalam kondisi apapun. Mungkin ada yang pintar, baik, bodoh, nakal ataupun siswa
yang mempunyai hambatan. insan kamil berusaha menjadi Sekolah yang senantiasa
menghargai setiap kondisi. karena kita percaya
semua anak adalah bintang, masterpiece, karya agung Tuhan.
Karena sekarang anda telah tahu, maka pilihan ditangan anda ,
mau pilih sekolah unggul betulan atau sekolah unggul-unggulan? Ya, Sampai kita
percaya bahwa sekolah kita adalah yang 1% itu. Mari bersama gelorakan semangat ”GIVING
THE BEST PROCESS”.
Langganan:
Postingan (Atom)
-
Penyerahan piala dan hadiah Lomba pildacil. Saat itu Ghaida(tengah berkerudung hitam) mendapat juara 2. Bismillahirahmanirahim…… ...
-
PROLOG : Sebuah kisah yang diambil dari Al-Quranul karim....kisah seorang nabi Allah yang tampan dan bijaksana, Tiada marah, tiada dendam. ...
-
Lorong rumah sakit masih terlihat sepi. Hanya ada beberapa cleaning servis rumah sakit sedang mengepel lantai. Bau karbol pembas...






